Moving Out

3 July 2007

Pindahan ke dennyhermawan.web.id


Akhir dari Keresahan Itu

6 February 2007

Sang waktu pun berjalan setelah keresahan-keresahan itu akhirnya bermuara dalam sebuah ikatan sakral yang suci, bahkan Sang Khalik pun menempatkannya sejajar dengan janji para RasulNya.

Tak terasa tiga bulan berlalu setelah akad nikah itu, Puji Syukur Hanyalah pantas dipanjatkan untukMu ya Rabb, yang telah berkenan memberikan kesempatan kepada hambaMu yang lemah ini untuk menggenapkan setengah dien. Rasa haru menyelimuti seluruh diri ini sesaat setelah mengucapkan beberapa kalimat itu, sebagai puncak dari keresahan-keresahan menanti detik-detik perjanjian yang sangat kuat ikatan pertangggungjawabannya. Perjanjian dan doa yang tak hanya disaksikan oleh sanak keluarga dan rekan sejawat, namun turut pula diamini oleh para MalaikatNya.

Hari demi hari pun terus berjalan, sang waktu memberikan kesempatan untuk mengenal lebih dekat sosok yang telah ikhlas menemani episode perjuangan kehidupan diri ini dalam menapaki jalan selanjutnya yang tidak akan selamanya mulus. Akan ada onak dan duri sebagai konsekuensi pembuktian keimanan dan kecintaan kita padaNya.

Sosok yang cerdas dan ceria, sosok yang penuh perhatian..Pancaran keikhlasan dan kejujuran keluar dari wajahnya yang cerah tersucikan air wudhu. Kemantapan perkataannya yang lembut meyakinkan diriku bahwa Cinta PadaNya adalah segalanya dari sesuatu apapun di muka bumi ini, tidaklah terlalu penting kemapanan materi karena akan datang dengan sendirinya sesuai janji Allah pada hambaNya yang berkeyakinan kuat. Yang terpenting adalah merdeka untuk memilih, jujur pada hati nurani ketika perasaan itu datang..Tidak terganggu oleh bisikan-bisikan yang membuat khawatir akan kekurangan materi. Demi Allah, janjiNya adalah benar! Jangan ada keraguan sedikitpun..karena Ia seperti persangkaan hambaNya..

Dalam keheningan sepertiga malam ini, kupandang wajahmu yang menyejukkan hatiku.. Terima kasih sayang, telah bersedia menjadi bidadari yang menemani perjuangan ini untuk terus memperbaiki diri menggapai ridhaNya. Hanya dengan menaati syariatNya lah hati kan menjadi tenang.

Teruntuk Bidadariku, Satu hal yang ingin kukatakan..

Aku mencintaimu waktu demi waktu..

Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia berpasang-pasangan..


Menghitung Hari

21 October 2006

Sakinah.co.nr

Saat menghitung hari hingga momen yang barakah itu tiba…

Rasanya sulit diungkapkan dengan kata-kata, ada gejolak emosional yang bercampur menjadi satu…

Hanya berserah diri kepada Yang Maha Kuasa menjadi solusi terbaik untuk menenangkan jiwa..


Nyari Kontrakan

19 October 2006

Dua hari ini lagi jalan-jalan keliling terus cari kontrakan untuk persiapan bada lebaran.. :)

Susah juga tinggal di Ibu Kota ini, segalanya serba mahal. Emang perlu kerja ekstra keras buat nyari yang sesuai keinginan dan sesuai budget pula tentunya. Ada yang letaknya strategis,dekat dengan tempat aktivitas sehari-hari, namun tempatnya tidak memadai dan nggak sesuai budget. Ada juga yang lingkungannya kondusif, sejuk, nyaman, tidak bising, namun jaraknya jauh banget dan macet.

Memang masih enakan tinggal di kampung atau di daerah. Biaya hidup murah, orangnya masih kekeluargaan (enggak semuaya dihargain sama materi), udaranya pun sejuk. Tapi sulit juga cari pemasukan akibat tidak meratanya pembangunan sarana dan pra sarana.

Yeah begini nasib jadi kontraktor :) Tapi nggak ada yang perlu dikeluhkan, just do the best and Allah, Rasul serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaan kita. Tapi kayaknya kalo begini informasi tentang kontrakan atawa kost-kostan akan menjadi sangat penting bagi orang yang membutuhkan seperti saya sekarang ini. Mungkin dalam bentuk web site.

:) Ketika saya obrolkan ini dengan teman, dia setuju bahwa ini bisa jadi peluang. Bahkan katanya dia pernah hampir akan membuat deal dengan dinas pertamanan DKI untuk bikin web informasi lahan pemakaman di Ibukota ini. “Bahkan orang mati pun bisa di bisnisin..” katanya sembari tertawa.

So, ada yang mau kasih informasinya atau bikinin webnya nggak?


Sanlat SD Islam Tugasku

19 October 2006

Dua hari yang lalu berkesempatan mendapatkan pembelajaran yang banyak sekali bergaul dengan adik-adik kelas satu SD Islam Tugasku, Pulomas, Jakarta. Ya mengikuti ajakan seorang sahabat, selama dua hari dari tanggal 16-17 Oktober 2006 saya menjadi pementor adik-adik tersebut dalam tim Mind Center Learning, Event Organizer yang diamanati sekolah untuk menangani sanlat Ramadhan kali ini.

Subhanallah..pertama kali berinteraksi sempat terkaget juga karena adik-adik yang dihadapi begitu luar biasa. Bayangan awal saya akan menemukan adik-adik mentee yang pendiam, cuek, pemalu, dan sulit diajak berinteraksi, sehingga peringatan sebelumnya yang mewanti-wanti bahwa adik-adik ini lain daripada yang lain tidak terlalu saya dengar.

Ternyata adik-adik ini memang luar biasa, mereka sangat cerdas-cerdas dan juga “dinamis” kalau nggak dikatakan bandel. Kebandelan yang sangat dinamis dan sarat kreativitas. Sangat menarik karena interaksi menjadi lebih akrab, personal, juga bisa lebih menyelami dunia anak kecil yang polos, lugu, apa adanya.

Sungguh pengalaman yang sangat menarik dan berharga, walaupun tubuh terasa letih, pikiran capek, namun keceriaan anak-anak tersebut sangatlah menggelitik dan menorehkan kenangan yang indah dalam hati.

Hanya dua hari..namun berat rasanya meninggalkan jalinan yang sudah terjalin selama sanlat tersebut. Jalinan yang tulus, tanpa ada prasangka dan jujur baik dalam memuji juga mengkritik. Tak heran jika beberapa siswa katanya menangis ketika harus berpisah. Benar-benar sanlat yang mengesankan!


Ada Semangat dalam Ramadhan

3 October 2006

Suatu ketika, seorang alim diundang berburu. Sang alim hanya dipinjami kuda yang lambat oleh tuan rumah. Tak lama kemudian, hujan turun dengan derasnya. Semua kuda dipacu dengan cepatnya agar segera kembali ke rumah. Tapi kuda sang alim berjalan lambat. Sang alim kemudian melepas bajunya, melipat dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah. Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda yang mereka tunggangi lebih cepat. Dengan perasaan heran, tuan rumah bertanya kepada sang alim, ”Mengapa bajumu tetap kering”. ”Masalahnya kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju”, jawab sang alim ringan sambil berlalu meninggalkan tuan rumah.Dalam perjalanan hidup, kadangkala kita mengalami kesalahan orientasi (persepsi) seperti tuan rumah dalam cerita di atas. Kita menginginkan sesuatu namun tidak memiliki orientasi seperti yang diinginkan, sehingga akhirnya kita tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Begitu pula dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang menginginkan ibadahnya di bulan Ramadhan dapat merubah dirinya menjadi lebih baik. Namun setelah Ramadhan, ternyata sifat dan perilakunya kembali seperti semula. Tak berubah secara signifikan. Ia hanya mendapatkan lapar dan haus. Persis seperti yang disabdakan Nabi saw, ”Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa pun, kecuali lapar dan haus”. Hal itu karena orientasinya keliru. Ia tidak tahu hikmah di balik keagungan bulan Ramadhan.

Salah satu dari sekian banyak hikmah Ramadhan yang sering dilupakan orang adalah fungsinya sebagai pembangkit semangat hidup. Ramadhan sesungguhnya adalah bulan motivasi (syahrul hamasah). Ramadhan semestinya mampu menjadikan setiap muslim yang beribadah di dalamnya menjadi termotivasi hidupnya. Coba kita lihat apa yang terjadi pada diri nenek moyang kita (para sahabat dan ulama sholihin) setelah ditempa Ramadhan. Mereka menjadikan Ramadhan sebagai ajang pembakaran semangat yang membara. Sejarah mencatat dengan tinta emas sepak terjang mereka yang produktif. Banyak orang yang tak tahu, karena memiliki motivasi yang tinggi, umat Islam terdahulu menjadi penguasa dunia selama lebih kurang 14 abad. Lebih lama daripada kejayaan Eropa. Apalagi dari Amerika yang baru berjaya di akhir abad ini.

Kejayaan Islam yang demikian lama di masa lalu tak bisa dipisahkan dari semangat nenek moyang kita untuk selalu bersemangat dan produktif dalam berkarya. Beberapa contoh bisa disebutkan disini. Ibnu Jarir, misalnya, mampu menulis 14 halaman dalam sehari selama 72 tahun. Ibnu Taymiyah menulis 200 buku sepanjang hidupnya. Imam Ghazali adalah peneliti di bidang tasawuf, politik, ekonomi dan budaya sekaligus. Al Alusi mengajar 24 pelajaran dalam sehari. Sedang Jabir bin Abdullah rela menempuh perjalanan selama satu bulan demi mendapatkan satu riwayat hadits. Fatimah binti Syafi’i pernah menggantikan lampu penerangan untuk ayahnya (Imam Syafi’i) sebanyak 70 kali. Semangat mereka terangkum dalam perkataan Abu Musa Al Asy’ari ra yang pernah ditanya oleh sahabatnya, ”Mengapa Anda tidak pernah mengistirahatkan diri Anda?” Abu Musa menjawab, ”Itu tidak mungkin, sesungguhnya yang akan menang adalah kuda pacuan!” Suatu ungkapan indah yang menggambarkan semangat yang membara, jiwa yang selalu ingin berkompetisi, berani dan pantang menyerah.

Semangat Itu Ada di Depan Kita Semangat nenek moyang kita yang luar biasa dalam beramal tak bisa dilepaskan dari orientasi mereka yang benar terhadap fungsi ibadah dalam Islam, termasuk fungsi ibadah Ramadhan sebagai ajang melejitkan motivasi (achievement motivation training). Beda dengan kebanyakan kaum muslimin saat ini yang lebih memahami ibadah Ramadhan sebagai kegiatan seremonial dan tradisi tanpa makna.

Beberapa bukti yang menunjukkan fungsi Ramadhan sebagai bulan pemotivasian adalah :

1. Shaum (puasa)
Tahukah Anda bahwa kekuatan semangat dapat mengalahkan kekuatan fisik? Itulah yang Allah latih kepada kita di bulan Ramadhan. Selama sebulan kita dilatih untuk mengalahkan nafsu yang berasal dari tubuh kasar kita; nafsu makan, minum, dan seksual. Kenyataannya, di bulan Ramadhan kita mampu mengalahkan tarikan nafsu demi memenangkan semangat ruh kita. Sayangnya, latihan itu tidak dilanjutkan dalam skala kehidupan yang lebih luas dan dalam waktu yang lebih lama setelah Ramadhan, sehingga banyak di antara kita yang hidupnya tidak bersemangat dan produktif dalam beramal. Padahal kunci motivasi itu adalah kemampuan mengalahkan kekuatan fisik. Itulah yang kita lihat pada diri Abdullah bin Ummi Maktum ra yang matanya buta tapi ngotot untuk ikut berperang bersama Rasulullah. Juga pada diri Cut Nyak Dien atau Jenderal Sudirman, yang pantang menyerah kepada pasukan kolonial walau dalam kondisi sakit parah.

2. Tarawih Ramadhan
Tarawih Ramadhan sebagai syahrul hamasah juga terlihat dalam pelaksanaan sholat tarawih. Sholat tarawih artinya sholat (di waktu malam) yang dilakukan dengan santai. Di zaman sahabat, sholat tarawih biasa dilakukan sepanjang malam. Dengan bacaan yang panjang dan diselingi juga dengan istirahat yang lama. Bahkan pernah dalam satu riwayat, para sahabat melakukan sholat tarawih berjama’ah sampai menjelang subuh. Hikmah dari ibadah tarawih yang dilakukan dengan santai dan tidak terburu-buru adalah untuk membentuk watak kesabaran dan ketekunan. Kita tahu, kesabaran dan ketekunan adalah kunci dari motivasi. Tidak mungkin seseorang itu termotivasi dan produktif berkarya tanpa memiliki sifat sabar dan tekun. Watak inilah yang dimiliki oleh nenek moyang kita, sehingga mereka menjadi umat yang jaya di masa lalu. Hal ini berbeda dengan pelaksanaan sholat tarawih di masa kini. Dimana waktunya tidak lebih dari 1-2 jam. Bahkan seringkali dilakukan tergesa-gesa. Hikmah tarawih sebagai ibadah yang melatih watak kesabaran dan ketekunan menjadi hilang, sehingga lenyap pulalah salah satu sarana pelatihan umat Islam untuk menjadi orang yang termotivasi hidupnya.

3. I’tikaf
Sarana lain yang disediakan Allah SWT untuk membentuk ruh semangat adalah i’tikaf. Ibadah i’tikaf berarti diam menyepi (untuk mengingat Allah) dan meninggalkan kesibukan duniawi. Bagi laki-laki, i’tikaf dilakukan di mesjid. Sedang bagi perempuan dilakukan pada ruangan khusus di rumahnya. Nabi Muhammad saw tidak pernah meninggalkan ibadah i’tikaf ini sepanjang hidupnya. Hal ini juga dilakukan oleh para sahabat dan orang-orang sholih sepeninggal beliau. Sudah menjadi hal yang lazim di masa nenek moyang kita bahwa setiap Ramadhan mesjid penuh dengan orang-orang yang i’tikaf. Bandingkan dengan kondisi sekarang. I’tikaf menjadi ibadah yang asing bagi kebanyakan kaum muslimin. Padahal ibadah ini sangat penting untuk kontemplasi diri. Dalam i’tikaf, kita melakukan uzlah (pertapaan) sebagai modal penting untuk bangkit dari keterpurukan atau sebagai momen untuk berubah. Nabi Muhammad saw berubah dari manusia biasa menjadi manusia luar biasa (nabi) setelah uzlah ke Gua Hiro. Lalu Allah menggantikan sarana uzlah tersebut dengan i’tikaf untuk kita. Agar kita meniru perubahan menjadi manusia luar biasa tersebut seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. Allah meminta kita agar mengulangi momen uzlah tersebut setiap tahun, sehingga kita selalu termotivasi untuk berubah semakin baik dari tahun ke tahun. Dari bulan ke bulan. Bahkan dari hari ke hari.

Nabi saw bersabda, ”Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemaren, ia celaka. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemaren, ia merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemaren, ia beruntung”. Ramadhan sebagai bulan pemotivasian seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh kita semua. Sungguh beruntunglah mereka yang menggunakan Ramadhan sebagai ajang peningkatan motivasi hidupnya. Lalu dengan modal Ramadhan ia mengisi hari-harinya di luar Ramadhan dengan semangat yang membara untuk beramal melesat ke angkasa kemuliaan. Sungguh, ada semangat dalam Ramadhan.

From : www.manajemenkehidupan.com


#1 in Ramadhan

24 September 2006

Alhamdulillah memasuki hari pertama ibadah puasa 1 Ramadhan 1427 Hijriyah,
ada sesuatu yang berbeda dirasakan, meskipun tadi malam nggak sempat ikut tarawih pertama di masjid karena di perjalanan pulang ke rumah tercinta untuk melaksanakan sahur pertama Ramadhan tahun ini bersama orangtua.

Ada rasa gembira melihat semua orang bergegas pergi ke masjid menjelang Isya. Ruangan mesjid penuh dengan semangat kaum muslimin yang menyambut datangnya Ramadhan.

Shalat Subuh pertama pun penuh dengan jamaah. Sungguh sesuatu yang menggembirakan.

Hati merasa senang dan bersyukur diberikan anugerah untuk masih merasakan indahnya Ramadhan tahun ini.

Semoga suasana ghiroh Ramadhan tahun ini nggak seperti tahun-tahun sebelumnya yang hangat cuma awalnya aja, yeah sebab hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini.


Marhaban Yaa Ramadhan

23 September 2006

Happy Ramadhan

Bulan yang penuh ampunan telah tiba
Berjuta-juta umat muslim menyambutnya
Seluruh amalan dan ibadah di lakukan
Hanya untuk mendapat Ridho-NYA.
Ya Allah…
Berilah kami kekuatan untuk dapat melaksanakannya
Berilah kami kesabaran dalam mencari Ridho-MU
Jadikanlah kami umat-MU yang sabar, tabah dan tawakal
Ya Allah…
Engkau begitu Pengasih dan Penyayang
Hingga Kau beri kami bulan Ramadhan , agar kami dapat membersihkan diri
atas segala dosa dan noda yang kami lakukan.
Karena Kau tahu kami umat-MU tidak sanggup menghadapi siksa neraka
Ya Allah…
Jadikanlah kami umat-MU yang ikhlas dan sabar dalam menerima cobaan-MU
Jadikanlah hati ini selalu tertuju pada-MU
Jadikanlah kami selalu merindukan-MU
Ya Allah…
Yang membolak-balikan hati ini
Kami mohon kepada-MU Ya Allah
Agar kami bisa terus istiqomah dijalan-MU
Ya Allah …
Ampunilah segala dosa yang kami lakukan
Dosa atas penglihatan, pendengaran, penciuman kami
Dosa atas tangan-tangan, kaki-kaki dan anggota tubuh kami
Ya Allah…
Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pemaaf

Amin..

********************************

Selamat menunaikan Ibadah di Bulan Ramadhan

Mohon Maaf Lahir dan Batin


Sebelum Saatnya Tiba

15 September 2006

Jika usia kita 20 tahun, lebih kurang 6 atau 7 tahun sudah kita didera kegelisahan. Jika ejawantah rasa gelisah itu beraneka, maka memang ianya kembali pada masing-masing pribadi kita. Selalu ada pilihan. Dan konsekuensi dari pilihan adalah tanggung jawab yang akan dipertanyakan. Ada kala sang gelisah menjadi kegenitan yang kita nikmati. Ada kala menjadi ketertekanan jiwa yang tak menghasilkan apa-apa. Atau menjadi motivasi ‘amal yang luar biasa saat terampil mengelola…

 ….Betapa tinggi biaya sosial atas banyaknya pembujang. Biaya untuk kegelisahan-kegelisahan. Biaya untuk pemborosan-pemborosan yang nir- pertanggungjawaban. Maka, jika Allah mendeklarasikan akan memperkaya orang yang menikah di Surah An Nuur ayat 32, maka benarlah nikah adalah separuh agama, soal yakin tidak kepada Allah Ar Razzaqul Wahha…

….“Jika seorang hamba menikah, maka menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada setengah yang lainnya.”

(HR Al Hakim dan Ath Thabrani, dari Anas ibn Malik. Al Albani berkata: hasan)…

 

Demikian kutipan renungan pernikahan Salim A. Fillah, salah satu dari sekian pemuda yang memutuskan untuk bersegera dalam menyempurnakan setengah dien dalam bukunya Gue Never Die. Selalu ada rasa salut berbalut kagum kepada rekan – rekan sebaya yang telah berani bersegera mengambil salah satu keputusan besar dalam hidupnya. Ya, mereka yang memilih untuk menjaga fitrahnya melalui the best decision, sunnah manusia termulia Rasullullah Saw, sesuai dengan tuntunan Sang Khalik yang Maha Mengetahui Kebutuhan hambaNya. (Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khair)  

Memang akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganjal dan cukup mengganggu stabilitas alam pikiranku. Sesuatu yang membuat benakku bertanya-tanya sekaligus mencoba menghalaunya sekuat tenaga. Selalu timbul pertanyaan apakah kegelisahan ini merupakan suatu hal yang wajar, apakah ini sesuatu yang normal? Apakah kegelisahan ini mendatangi setiap mahluk  yang bernama insan? Lalu jika jawabnya adalah YA, apakah kegelisahan ini boleh menimpa sosok insan dakwah? Atau apakah ini hanyalah bisikan emosi biasa yang mudah untuk muncul dan tenggelam atau juga hanya semangat yang mudah meletup dan mudah pula padamnya?  

Kegelisahan itu terkadang datang tanpa diundang, tanpa mengenal waktu dan tempat. Dimanapun kita berada ia akan mudah masuk ke alam pikiran dan perasaan, mengacaukan konsentrasi yang susah payah dibangun, juga terkadang mengacaukan jadwal rencana yang sudah tersusun rapi. Sesuatu itu terkadang menjadi bahan bakar  semangat yang menggebu-gebu, namun ironisnya juga bisa menjadikan rasa malas menyerang dengan tiba-tiba.  

Namun ternyata sesuatu itu adalah suatu hal yang fitrah, semua manusia normal pasti akan merasakannya. Tak peduli apakah orang itu berlabel aktivis ataupun bukan. Karena sesuatu ini adalah suatu anugerah yang indah yang diberikanNya kepada seluruh umat di dunia. Sesuatu yang fitrah dan harus dipasangkan dengan hal yang fitrah pula.  

Sangatlah sulit untuk menjaga kesucian di zaman sekarang ini.Bahkan hidup di kampus yang berlabel Islam dan 99,9% penghuninya adalah muslim pun sangat sulit untuk menjaga pandangan. Kemanapun mata memandang, akan dengan mudah pandangan ini jatuh pada hal yang Ia telah larang untuk memandangnya. Rasanya bukan hanya standar syariat yang sudah terlewati jauh, bahkan nampaknya standar kesopanan pun sudah tertinggal di belakang. Bisa saja kita mudah mengatakan untuk menundukkan pandangan, tapi kenyataan selalu membuktikan bahwa perbuatan tidak semudah perkataan, apalagi dengan pondasi keimanan yang pasang surut dan pas-pasan. Ini baru soal menjaga pandangan, belum lagi pengaruh-pengaruh pemikiran dan gaya hidup yang bikin pikiran tambah kusut. Lebih dalam lagi kalau sudah berbicara hati, terkadang tanpa disadari hati ini telah dipenuhi dengan titik-titik hitam yang semakin lama semakin mengurangi kebeningannya. Yeah…mungkin ada benarnya…Betapa tinggi biaya sosial atas banyaknya pembujang…. 

Keinginan untuk segera mengakhiri kegelisahan ini semakin bertambah-tambah setelah membaca buku-buku merah jambu  ataupun sekedar berdiskusi hal tersebut dengan sesama teman perjuangan. Aneh..padahal aku mungkin termasuk orang yang nggak gampang terkompori sebelum seluruh argumen di alam pikiranku habis terjawab. Tapi jika solusi itu datangnya dari Dzat yang menciptakan manusia, siapa yang meragukan rasionalitasnya???  

Berdiri Aku dihadapan cermin datar yang selalu berkata jujur. Aku bertanya dengan lembut pada sosok yang saat ini ada didepanku. Ah…jawaban itu datang kembali…..apalah artinya sosok yang ada dihadapanku sekarang ini. Dia hanyalah sosok yang belum ada apa-apanya. Sosok yang lemah, miskin ilmu, miskin harta, serta miskin keikhlasan. Pantaskah jika sosok dalam cermin ini bersegera untuk mengambil keputusan besar itu? Entahlah terkadang sosok itu terlihat sangat dewasa, tegar, berdaya juang. Namun terkadang pula sosok tersebut berubah menjadi sosok yang kekanak-kanakan, irrasional, lemah, putus asa….. 

Bagaimanapun pernikahan bukan hanya mensinergikan dua insan berlainan jenis, namun ajaib pernikahan juga berarti menyatukan dua keluarga besar yang berlainan latar belakang , kebiasaan, serta karakter. Menikah juga berarti tahapan untuk mempersiapkan generasi yang akan membangun peradaban. Tidak bisa hanya mengedepankan emosionalitas saja. Karena manusia diciptakan secara sempurna dengan dilengkapi segala potensinya. Potensi Intelektual, Emosional, dan Spiritual. Rasionalitas perlu dikedepankan meskipun aspek emosionalitas tidak bisa diabaikan, apalagi aspek Spiritualitas sebagai pintu gerbang terakhir untuk menentukan sebuah keputusan. 

Kembali kuamati dengan seksama sosok resah dalam cermin itu, ada sebuah pengharapan disana. ”……Andai saja menemukan perempuan salehah dan mau menerima diriku seutuhnya dan siap hidup berjuang bersama, dalam suka dan duka, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyempurnakan separuh agama….” Perlu kematangan untuk sebuah keyakinan bahwa seorang lelaki adalah qowwam. Sosok yang nantinya akan memimpin sebuah perahu bernama keluarga yang menyusuri bahtera berlayar menuju surgaNya? Apakah sudah cukup ilmu yang dimiliki untuk menahkodai perahu tersebut? Lalu bagaimanakah pula perasaan orangtua yang telah berjuang memberikan perlindungan, kasih sayang, serta materi yang terbaik untuk anak gadisnya hingga tumbuh menjadi sosok gadis yang cerdas dan gemilang, namun tiba-tiba diminta oleh orang yang baru dikenalnya tanpa jaminan yang jelas? Memang benar bahwa seorang gadis bisa diibaratkan seperti bunga mawar dan orangtua seperti pemilik kebun mawarnya. Orang yang merawat bunga mawar, merawatnya, tidak mungkin begitu saja memberikan bunga itu pada orang yang baru saja melihatnya, kemudian ingin memetiknya. Pemilik bunga mawar itu pasti ingin memastikan apakah bunga mawar itu akan dirawat lebih baik atau minimal sama dengan sebelum diberikannya dengan si pemetik tadi.

Ada suatu tanggung jawab besar untuk seorang lelaki sejati dalam menyatakan maksudnya. Takkan mudah bagi seorang laki-laki yang bertanggung jawab untuk menyatakan pilihan, menyatakan keputusan, apalagi menyatakan perasaan kepada seorang wanita tanpa memahami konsekuensi di balik itu semua. Suatu pernyataan adalah janji yang harus dipenuhi. Setiap kata yang terucap adalah hutang yang harus dipenuhi. Tidak seperti roman-roman picisan yang mudah terlihat saat ini, pernyataan sikap, pilihan, putusan, hanyalah janji kosong yang hanya menginginkan kesenangan belaka. Tanpa ada keberanian untuk menghadapi segala konsekuensinya. Mudah mengatakan, mudah pula melupakan….

Be A Gentleman !!!

 


Menunda waktu menikah memang mungkin menunda rahmat yang mungkin datang dari Allah SWT. Bisa juga menunda momentum terbaik dalam hidup kita.

Wallahu alam bishwowab

–Dalam sebuah perenungan, ternyata sulit menuangkannya dalam coretan kata, meskipun telah lama bergumul dalam alam pikiran dan terasa menyesakkan jika tak tersalurkan—  Akhir tahun 2005


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.