Jika usia kita 20 tahun, lebih kurang 6 atau 7 tahun sudah kita didera kegelisahan. Jika ejawantah rasa gelisah itu beraneka, maka memang ianya kembali pada masing-masing pribadi kita. Selalu ada pilihan. Dan konsekuensi dari pilihan adalah tanggung jawab yang akan dipertanyakan. Ada kala sang gelisah menjadi kegenitan yang kita nikmati. Ada kala menjadi ketertekanan jiwa yang tak menghasilkan apa-apa. Atau menjadi motivasi ‘amal yang luar biasa saat terampil mengelola…
….Betapa tinggi biaya sosial atas banyaknya pembujang. Biaya untuk kegelisahan-kegelisahan. Biaya untuk pemborosan-pemborosan yang nir- pertanggungjawaban. Maka, jika Allah mendeklarasikan akan memperkaya orang yang menikah di Surah An Nuur ayat 32, maka benarlah nikah adalah separuh agama, soal yakin tidak kepada Allah Ar Razzaqul Wahha…
….“Jika seorang hamba menikah, maka menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada setengah yang lainnya.”
(HR Al Hakim dan Ath Thabrani, dari Anas ibn Malik. Al Albani berkata: hasan)…
Demikian kutipan renungan pernikahan Salim A. Fillah, salah satu dari sekian pemuda yang memutuskan untuk bersegera dalam menyempurnakan setengah dien dalam bukunya Gue Never Die. Selalu ada rasa salut berbalut kagum kepada rekan – rekan sebaya yang telah berani bersegera mengambil salah satu keputusan besar dalam hidupnya. Ya, mereka yang memilih untuk menjaga fitrahnya melalui the best decision, sunnah manusia termulia Rasullullah Saw, sesuai dengan tuntunan Sang Khalik yang Maha Mengetahui Kebutuhan hambaNya. (Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khair)
Memang akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganjal dan cukup mengganggu stabilitas alam pikiranku. Sesuatu yang membuat benakku bertanya-tanya sekaligus mencoba menghalaunya sekuat tenaga. Selalu timbul pertanyaan apakah kegelisahan ini merupakan suatu hal yang wajar, apakah ini sesuatu yang normal? Apakah kegelisahan ini mendatangi setiap mahluk yang bernama insan? Lalu jika jawabnya adalah YA, apakah kegelisahan ini boleh menimpa sosok insan dakwah? Atau apakah ini hanyalah bisikan emosi biasa yang mudah untuk muncul dan tenggelam atau juga hanya semangat yang mudah meletup dan mudah pula padamnya?
Kegelisahan itu terkadang datang tanpa diundang, tanpa mengenal waktu dan tempat. Dimanapun kita berada ia akan mudah masuk ke alam pikiran dan perasaan, mengacaukan konsentrasi yang susah payah dibangun, juga terkadang mengacaukan jadwal rencana yang sudah tersusun rapi. Sesuatu itu terkadang menjadi bahan bakar semangat yang menggebu-gebu, namun ironisnya juga bisa menjadikan rasa malas menyerang dengan tiba-tiba.
Namun ternyata sesuatu itu adalah suatu hal yang fitrah, semua manusia normal pasti akan merasakannya. Tak peduli apakah orang itu berlabel aktivis ataupun bukan. Karena sesuatu ini adalah suatu anugerah yang indah yang diberikanNya kepada seluruh umat di dunia. Sesuatu yang fitrah dan harus dipasangkan dengan hal yang fitrah pula.
Sangatlah sulit untuk menjaga kesucian di zaman sekarang ini.Bahkan hidup di kampus yang berlabel Islam dan 99,9% penghuninya adalah muslim pun sangat sulit untuk menjaga pandangan. Kemanapun mata memandang, akan dengan mudah pandangan ini jatuh pada hal yang Ia telah larang untuk memandangnya. Rasanya bukan hanya standar syariat yang sudah terlewati jauh, bahkan nampaknya standar kesopanan pun sudah tertinggal di belakang. Bisa saja kita mudah mengatakan untuk menundukkan pandangan, tapi kenyataan selalu membuktikan bahwa perbuatan tidak semudah perkataan, apalagi dengan pondasi keimanan yang pasang surut dan pas-pasan. Ini baru soal menjaga pandangan, belum lagi pengaruh-pengaruh pemikiran dan gaya hidup yang bikin pikiran tambah kusut. Lebih dalam lagi kalau sudah berbicara hati, terkadang tanpa disadari hati ini telah dipenuhi dengan titik-titik hitam yang semakin lama semakin mengurangi kebeningannya. Yeah…mungkin ada benarnya…Betapa tinggi biaya sosial atas banyaknya pembujang….
Keinginan untuk segera mengakhiri kegelisahan ini semakin bertambah-tambah setelah membaca buku-buku merah jambu ataupun sekedar berdiskusi hal tersebut dengan sesama teman perjuangan. Aneh..padahal aku mungkin termasuk orang yang nggak gampang terkompori sebelum seluruh argumen di alam pikiranku habis terjawab. Tapi jika solusi itu datangnya dari Dzat yang menciptakan manusia, siapa yang meragukan rasionalitasnya???
Berdiri Aku dihadapan cermin datar yang selalu berkata jujur. Aku bertanya dengan lembut pada sosok yang saat ini ada didepanku. Ah…jawaban itu datang kembali…..apalah artinya sosok yang ada dihadapanku sekarang ini. Dia hanyalah sosok yang belum ada apa-apanya. Sosok yang lemah, miskin ilmu, miskin harta, serta miskin keikhlasan. Pantaskah jika sosok dalam cermin ini bersegera untuk mengambil keputusan besar itu? Entahlah terkadang sosok itu terlihat sangat dewasa, tegar, berdaya juang. Namun terkadang pula sosok tersebut berubah menjadi sosok yang kekanak-kanakan, irrasional, lemah, putus asa…..
Bagaimanapun pernikahan bukan hanya mensinergikan dua insan berlainan jenis, namun ajaib pernikahan juga berarti menyatukan dua keluarga besar yang berlainan latar belakang , kebiasaan, serta karakter. Menikah juga berarti tahapan untuk mempersiapkan generasi yang akan membangun peradaban. Tidak bisa hanya mengedepankan emosionalitas saja. Karena manusia diciptakan secara sempurna dengan dilengkapi segala potensinya. Potensi Intelektual, Emosional, dan Spiritual. Rasionalitas perlu dikedepankan meskipun aspek emosionalitas tidak bisa diabaikan, apalagi aspek Spiritualitas sebagai pintu gerbang terakhir untuk menentukan sebuah keputusan.
Kembali kuamati dengan seksama sosok resah dalam cermin itu, ada sebuah pengharapan disana. ”……Andai saja menemukan perempuan salehah dan mau menerima diriku seutuhnya dan siap hidup berjuang bersama, dalam suka dan duka, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyempurnakan separuh agama….” Perlu kematangan untuk sebuah keyakinan bahwa seorang lelaki adalah qowwam. Sosok yang nantinya akan memimpin sebuah perahu bernama keluarga yang menyusuri bahtera berlayar menuju surgaNya? Apakah sudah cukup ilmu yang dimiliki untuk menahkodai perahu tersebut? Lalu bagaimanakah pula perasaan orangtua yang telah berjuang memberikan perlindungan, kasih sayang, serta materi yang terbaik untuk anak gadisnya hingga tumbuh menjadi sosok gadis yang cerdas dan gemilang, namun tiba-tiba diminta oleh orang yang baru dikenalnya tanpa jaminan yang jelas? Memang benar bahwa seorang gadis bisa diibaratkan seperti bunga mawar dan orangtua seperti pemilik kebun mawarnya. Orang yang merawat bunga mawar, merawatnya, tidak mungkin begitu saja memberikan bunga itu pada orang yang baru saja melihatnya, kemudian ingin memetiknya. Pemilik bunga mawar itu pasti ingin memastikan apakah bunga mawar itu akan dirawat lebih baik atau minimal sama dengan sebelum diberikannya dengan si pemetik tadi.
Ada suatu tanggung jawab besar untuk seorang lelaki sejati dalam menyatakan maksudnya. Takkan mudah bagi seorang laki-laki yang bertanggung jawab untuk menyatakan pilihan, menyatakan keputusan, apalagi menyatakan perasaan kepada seorang wanita tanpa memahami konsekuensi di balik itu semua. Suatu pernyataan adalah janji yang harus dipenuhi. Setiap kata yang terucap adalah hutang yang harus dipenuhi. Tidak seperti roman-roman picisan yang mudah terlihat saat ini, pernyataan sikap, pilihan, putusan, hanyalah janji kosong yang hanya menginginkan kesenangan belaka. Tanpa ada keberanian untuk menghadapi segala konsekuensinya. Mudah mengatakan, mudah pula melupakan….
Be A Gentleman !!!
Menunda waktu menikah memang mungkin menunda rahmat yang mungkin datang dari Allah SWT. Bisa juga menunda momentum terbaik dalam hidup kita.
Wallahu alam bishwowab
–Dalam sebuah perenungan, ternyata sulit menuangkannya dalam coretan kata, meskipun telah lama bergumul dalam alam pikiran dan terasa menyesakkan jika tak tersalurkan— Akhir tahun 2005